Yang Anda Perlu Tahu Soal Mixing Vaksin Covid-19

Yang Anda Perlu Tahu Soal Mixing Vaksin Covid-19
Dengan semakin banyaknya merek vaksin untuk virus Corona, muncul tindakan mixing vaksin Covid-19 yang menyuntikkan dua dosis vaksin berbeda. (Foto: The Telegraph)
Bagikan ke Teman:

Beberapa negara sekarang sudah mulai mengizinkan mixing vaksin Covid-19, alis menggabungkan proses vaksinasi menggunakan dua merk vaksin yang berbeda. Hal ini juga sudah diberlakukan bagi beberapa kelompok khusus di Indonesia.

Hal ini juga terkait dengan tingginya penyebaran virus corona varian Delta di beberapa negara di dunia. Pemerintah negara-negara ini kemudian memberlakukan kebijakan mixing vaksin Covid-19 sebagai upaya untuk mendongkrak inokulasinya. Mereka percaya menggabungkan dua merek vaksin yang berbeda ini bisa meningkatkan kecepatan dan efektivitas kampanye vaksin.

Beberapa studi yang masih berjalan menyelidiki efek dari mixing vaksin ini. Data yang sudah dirilis dari berbagai percobaan di Spanyol dan Inggris Raya menyimpulkan bahwa penggabungan vaksin ini memicu respons imun yang kuat, bahkan melampaui dua dosis vaksin yang sama.

Di Jerman, studi ketiga juga menunjukkan respons imun mixing dosis virus corona lebih baik dibanding dua suntikan AstraZeneca dan sama baiknya atau bahkan lebih baik dibanding menerima suntikan dua vaksin Pfizer.

Negara Mana yang Menerapkan Mixing Vaksin Covid-19?

negara mana yang sudah menerapkan mixing vaksin covid-19
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga beralih vaksin, disuntik Moderna setelah AstraZeneca. (Foto: Reuters)

Dilansir Al Jazeera, beberapa negara termasuk Bahrain, Bhutan, Kanada, Italia, Korea Selatan, Thailand, dan Uni Emirat Arab telah mulai menerapkan mixing vaksin sebagai kebijakan.

Praktik ini diotorisasi pada bulan Januari oleh Kesehatan Publik Inggris ketika suplai vaksin terbatas. Di bulan yang sama, media Amerika Serikat melaporkan bahwa Pusat Pengontrolan dan Pencegahan Penyakit (CDC) melonggarkan rekomendasi mereka untuk otorisasi mixing vaksin “untuk situasi tertentu”.

Pada bulan Maret, beberapa negara menghentikan sementara penyebaran vaksin mereka ditengah kekhawatiran terhadap pembekuan darah ekstrem yang langka yang dihubungkan dengan vaksin AstraZeneca dari Oxford, Inggris.

Sebagai tanggapan, di beberapa negara, pekerja medis diotorisasi untuk memberikan vaksin berbeda untuk dosis kedua pasien yang telah menerima suntikan AztraZeneca di dosis pertama.

Dr Gloria Taliana, profesor penyakit menular di Sapienza University of Rome, mengatakan pada Al Jazeera bahwa mixing vaksin telah menjadi sesuatu yang umum ketika mengobati penyakit lain di masa lalu.

“Kami menggunakan vaksin berbeda [ketika mengobati] penyakit lain dan kami tidak peduli jika dosis kedua adalah vaksin yang berbeda dibanding yang pertama, atau jika dosis pendongkrak berbeda.”

Dr Taliani menekankan bahwa mungkin akan ada beberapa pertanyaan karena ini adalah kali pertama mRNA vaksin digunakan sebagai perlindungan melawan penyakit menular. Namun ia mengatakan, tidak ada alasan biologis yang menyimpulkan hal ini bisa berbahaya.

“Tidak ada alasan biologis mengapa vaksin yang menggunakan stimulus berbeda pada sistem imun bisa berbahaya bagi seseorang,” jelasnya.

Beberapa pemimpin dunia telah menerapakan kebijakan mixing vaksin Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir. Kanselor Jerman Angela Merkel, 66 tahun, menerima vaksin Moderna untuk dosis kedua setelah menerima AstraZeneca di dosis pertama.

Di Italia, Perdana Menteri Mario Draghi, 73 tahun, beralih ke vaksin Pfizer untuk dosis keduanya setelah menerima suntikan AstraZeneca. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga beralih vaksin, disuntik Moderna setelah AstraZeneca.

Apakah Mixing Vaksin Efektif?

apakah mixing vaksin efektif
Studi menemukan, mixing vaksin Covid-19 Pfizer dan AstraZeneca memicu respons imun yang lebih kuat. (Foto: Shutterstock)

Percobaan Com-COV dari University of Oxford, yang melibatkan lebih dari 800 sukarelawan, menyelidikan efikasi dua dosis AstraZeneca, Pfizer, atau salah satunya mengikuti yang lain.

Menurut hasilnya, jadwal mixing yang melibatkan vaksin Covid-19 Pfizer dan AstraZeneca memicu respons imun yang kuat terhadap virus.

Hasil dari studi ini menyiratkan bahwa urutan vaksin berpengaruh, dengan AstraZeneca diikuti Pfizer “menginduksi antibodi yang lebih tinggi dan respons sel-T dibandingkan Pfizer yang diikuti dengan AstraZeneca”.

Sel-T menstimulasi produksi antibodi dan membantu memerangi sel yang terinfeksi virus. Riset juga menunjukkan bahwa dua dosis Pfizer memproduksi kadar tertinggi antibodi. Kedua mixing tadi memberikan hasil yang lebih baik dibanding dua dosis AstraZeneca yang masih sangat efektif.

Secara terpisah, pada bulan Mei, satu studi di Spanyol yang melibatkan 600 sukarelawan menemukan bahwa satu dosis AstraZeneca diikuti Pfizer masih lebih efektif dibanding dua dosis AstraZeneca.

Dr Anna Blakney, asisten profesor di Michael Smith Laboratories and School of Biomedical Engineering di University of British Columbia, adalah bagian dari tim yang melakukan percobaan yang meneliti penggabungan atau mixing vaksin mRNA dan vaksin viral vector AstraZeneca.

“Apa yang kami lihat di tikus adalah bahwa menggabungkan keduanya lebih efektif dibanding salah satunya saja,” ujarnya. “Jadi saya pikir hal ini bisa berhasil tapi kami masih belum punya datanya untuk mengatakan apakah rezim ini benar efektif.”

Apakah Aman untuk Mixing Vaksin?

Apakah Aman untuk Mixing Vaksin Covid-19?
Belum ada hasil studi yang menyimpulkan bahwa penggabungan atau mixing vaksin Covid-19 berujung pada efek samping yang parah. (Foto: Istimewa)

Belum ada hasil studi yang menyimpulkan bahwa penggabungan atau mixing vaksin Covid-19 berujung pada efek samping yang parah, tapi hasil dari studi di Inggris menyiratkan bahwa mixing vaksin bisa berujung pada terjadinya peningkatan ringan atau sedang pada efek samping.

Data dari studi Com-COV menunjukkan bahwa 30 sampai 40 persen dari mereka yang menerima dosis gabungan melaporkan demam setelah dosis kedua, dibandingkan 10 sampai 20 persen dari penerima satu jenis vaksin.

“Hasil dari studi ini menyimpulkan bahwa penggabungan dua dosis terjadwal bisa menghasilkan peningkatan mangkir kerja di hari setelah imunisasi, dan ini penting untuk dipertimbangkan ketika memberikan imunisasi pada pekerja medis,” ujar Dr Matthew Snape, profesor madya di departemen kesehatan anak dan vaksinologi di University of Oxford, yang juga pemimpin penelitian yang sudah disebut sebelumnya.

Percobaan Com-COV yang masih berlangsung melebar dan juga melibatkan Moderna dan Novavax pada bulan April.

Hasil dari studi Covid-19 di Spanyol menemukan efek samping ringan umum terjadi dan serupa dengan laporan dari dua dosis vaksin yang sama.

Sementara itu, kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan telah memperingatkan individu untuk tidak memilih mixing vaksin Covid-19. Ia mengatakan keputusan ini harus diserahkan ke badan medis.

“Individu seharusnya tidak memutuskan hal ini sendiri, badan kesehatan publik bisa (melakukannya), berdasarkan data yang ada,” ujar Swaminathan melalui Twitter. “Data dari studi penggabungan vaksin yang berbeda masih ditunggu–imunogenisitas dan keamanannya masih butuh dievaluasi.”

Program Vaksin Covid-19 dari Triasse

Terkait penyebaran Covid-19 di Indonesia, Triasse mencoba membantu menekan dan menurunkan jumlah orang yang terinfeksi melalui program vaksinasi. Menggunakan vaksin Sinopharm yang memiliki efikasi sampai 79 persen, perusahaan kini bisa mengikuti Program Vaksin Gotong Royong yang diadakan oleh Triasse bersama Kimia Farma.

Program vaksin khusus karyawan perusahaan ini diharapkan bisa membantu menstabilkan dan menekan jumlah pasien Covid-19 di Indonesia sambil menjaga produktivitas dan kinerja karyawan dan perusahaan.

Selain itu, ada baiknya untuk lakukan pemeriksaan kesehatan sebelumnya. Medical check-up bisa mengurangi efek samping vaksin dan juga memastikan kondisi tubuh siap untuk menerima vaksinasi yang akan diberikan. Perlu diketahui, beberapa kondisi kesehatan seperti epilepsi, darah tinggi, orang dengan HIV, dan beberapa lainnya membutuhkan perhatian khusus sebelum menerima vaksin Covid-19.

Lakukan medical check-up pra-vaksin ini sekitar 7 hari sebelum Anda berencana akan melakukan vaksinasi. Hasil bisa didapatkan tiga hari setelah pengecekan.

Untuk lebih jelasnya, cek di sini. Pastikan juga untuk selalu melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin secara berkala dua kali dalam setahun. Cek berbagai paket pemeriksaan lainnya di Triasse sesuai dengan kebutuhan.

 

Bagikan ke Teman:
Nilam Suri
Sebelum menjadi Content Manager di Triasse, Nilam bekerja di beberapa media terbesar di Indonesia dengan spesialisasi di bidang kesehatan, gaya hidup, dan hiburan. Lulus dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia jurusan Cultural Studies dan Sastra Inggris.