Penanganan Virus Corona bagi Petugas Medis dan Hukum

Penanganan Virus Corona bagi Petugas Medis dan Hukum
Petugas medis dan penegak hukum memiliki risiko tinggi terpapar COVID-19, karenanya mereka harus tahu cara penanganan virus corona yang tepat. (Foto: Freepik)
Bagikan ke Teman:

Tim medis dan penegak hukum punya risiko besar tertular virus corona. Namun, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan kalau mereka tahu cara penanganan virus corona dengan baik dan benar.

Layanan medis memainkan peran penting dalam penanganan virus corona. Mereka menjadi pilar utama untuk menghentikan COVID-19, terutama di Indonesia yang sudah menjangkiti 174 orang, tujuh di antaranya meninggal dunia, hingga artikel ini ditulis pada Rabu (18/3/2020).

Petugas medis ini berbeda dengan pasien. Mereka punya tantangan yang unik, seperti mengambil keputusan yang tepat untuk pasien, menyampaikan informasi yang tepat, hingga memberikan perawatan yang benar kepada pasien dengan gejala corona virus.

Dalam artikel tips harian oleh Triasse ini, tim medis dan penegak hukum akan mendapatkan cara penanganan virus corona. Artikel ini dikutip dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, tapi diperbarui dengan beberapa kasus di Indonesia.

Penanganan Virus Corona untuk Tim Medis

penanganan virus corona untuk tim medis
Tim medis harus menggunakan peralatan yang sesuai standar, termasuk masker oksigen untuk masuk ke ruang yang ada pasien positif virus corona. (Foto: Freepik)

Ketika mempersiapkan dan menangani pasien dengan penyakit virus corona yang sudah positif atau masih diduga, tim medis harus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan baik dengan perawat atau dokter.

Kemudian, tim medis harus menggunakan peralatan yang sesuai standar, termasuk masker oksigen untuk masuk ke ruang yang ada pasien positif virus corona. Dalam penanganan virus corona, tim medis harus menjaga jarak sekitar enam kaki dengan pasien. Bila perlu, lakukan kontak jarak jauh dengan pasien.

Dokter yang memberikan perawatan terhadap pasien positif virus corona harus tetap waspada dengan mengikuti prosedur kerja penanganan virus corona. Kewaspadaan sangat penting karena pasien bisa saja batuk atau bersin secara tiba-tiba yang menyebabkan tertularnya COVID-19.

Beberapa alat pelindung diri yang disarankan untuk tim medis adalah:

  • N-95 atau respirator yang punya perlindungan lebih tinggi dari masker wajah. Ini bisa melindungi seluruh bagian wajah. Jika tim medis hanya memakai kacamata atau lensa kontak, tetap tidak bisa melindungi mata, yang bisa menjadi sarana penularan virus.
  • Sepasang sarung tangan. Ini harus selalu digunakan dalam penanganan virus corona. Ganti sarung tangan jika sobek atau sudah terkontaminasi.
  • Baju proteksi. Baju pelindung antivirus ini dirancang untuk mencegah penularan patogen atau virus yang terkandung dalam darah dan cairan tubuh pasien. Artinya, baju yang seperti astronaut ini berfungsi untuk melindungi petugas medis dari paparan virus ketika mereka melakukan perawatan terhadap pasien-pasien yang memiliki penyakit sangat menular, terutama ketika penderita mengalami pendarahan, muntah, atau diare.

Semua alat itu harus digunakan tim medis untuk penanganan virus corona. Cara menggunakan baju pelindung antivirus yang dikombinasikan dengan beberapa peralatan lain harus dipasang dalam urutan yang benar dan butuh pelatihan khusus. Sebab, jika sampai salah maka potensi terinfeksi virus akan semakin tinggi.

Begitu pun dalam melepas baju proteksi dari tubuh usai melakukan perawatan terhadap pasien yang terkena wabah. Karena di bagian inilah potensi terpapar virus sangat tinggi. Virus yang menempel di permukaan baju berisiko mengenai bagian tubuh yang bisa disusupi virus.

Dalam hal ini, butuh prosedur terstruktur, pelatihan, dan pengawasan dari ahli ketika menggunakan atau melepas baju proteksi, terutama saat melakukan perawatan pada pasien yang memiliki penyakit menular berbahaya.

Penanganan Virus Corona untuk Penegak Hukum

penanganan virus corona untuk penegak hukum
Tim penegak hukum juga disarankan untuk meminta bantuan medis untuk mendapatkan informasi akurat tentang penanganan virus corona. (Foto: Freepik)

Penyakit corona virus adalah penyakit pernapasan yang menyebar dari orang ke orang. Pasien dengan COVID-19 memiliki penyakit pernapasan ringan dan berat. Data menunjukkan, gejala bisa muncul dalam dua hingga 14 hari setelah tertular virus yang disebabkan oleh COVID-19.

Meski penegak hukum terlihat mempunyai badan yang kekar, tetap saja mereka punya risiko tertular virus Corona. Sebab, wabah ini tidak menghiraukan siapa Anda. Menteri Perhubungan Budi Karya saja tertular virus Corona.

Untuk mengantisipasi tim penegak hukum tertular, sangat disarankan Anda lebih sering mencuci tangan menggunakan air dan sabul selama 20 detik. Jika tidak ada air, Anda bisa mempergunakan pembersih tangan dengan kadar alkohol 65 hingga 90 persen. Anda sangat dilarang untuk menyentuh wajah jika tidak mencuci tangan.

Tim penegak hukum juga disarankan untuk meminta bantuan medis untuk mendapatkan informasi akurat tentang penanganan virus corona. Selain itu, sebagai penegak hukum, Anda juga disarankan untuk memakai sarung tangan dalam penanganan virus corona.

Alat pelindung diri yang disarankan untuk penegak hukum jika melakukan kontak dengan pasien COVID-19 berbeda dengan tim medis. Tim penegak hukum bisa memakai pakaian isolasi sekali pakai yang disetujui Kementerian Kesehatan.

Masker wajah juga merupakan alternatif yang bisa dipakai untuk tim penegak hukum dalam penanganan virus corona. Gunakan juga pelindung mata yang sesuai prosedur.

Jika tidak bisa menggunakan itu semua, tapi harus melakukan kontak dengan pasien positif virus corona, tim penegak hukum disarankan segera mencuci tangan dengan benar, gosok gigi, dan mandi.

Perkembangan di Indonesia

penanganan di Indonesia
Kementerian Kesehatan dalam penanganan virus corona telah menerbitkan Surat Edaran terkait strategi dan penanganan di Indonesia.

Kementerian Kesehatan dalam pengendalian virus corona telah menerbitkan Surat Edaran kepada seluruh Dinas Kesehatan Provinsi dan Kab/Kota, Rumah Sakit Rujukan, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam mengahdapi kemungkinan masuknya penyakit ini.

Bandara-bandara di seluruh Indonesia terutama yang mempunyai penerbangan langsung dari China, meningkatkan kewaspadaan diantaranya dengan mengaktifkan thermal scanner, memberikan health alert card dan KIE pada penumpang.

Kementerian Kesehatan juga bakal melakukan simulasi kesiapan yang akan melibatkan lintas sektor untuk mengantisipasi jika penyakit ini masuk ke Indonesia. Penyebaran KIE kepada masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada terhadap penyakit ini

Bagikan ke Teman:
Nilam Suri
"Dance like no one is watching. Sing like no one is listening. Love like you've never been hurt and live like its heaven on Earth."