Long Covid: Apa Itu dan Apa Gejalanya?

Long Covid: Apa Itu dan Apa Gejalanya?
Beberapa gejala setelah terinfeksi Covid-19 bertahan dalam jangka panjang yang memunculkan diagnosis long Covid. (Foto: Freepik)
Bagikan ke Teman:

Kebanyakan orang yang terinfeksi Covid-19 tidak menderita penyakit parah dan sembuh dalam waktu yang relatif singkat. Namun beberapa mengalami masalah jangka panjang setelah sembuh dari infeksi aslinya–bahkan walaupun mereka pada awalnya tidak jatuh sakit. Namun, peneliti menyimpulkan, long Covid bisa jadi tidak sebegitu seringnya terjadi dibanding dari yang disangka sebelumnya, dan lebih sedikit anak-anak yang terpengaruh oleh kondisi ini.

Apa Gejala Long Covid?

apa gejala long covid
Sesak napas dan nyeri pada dada bisa termasuk dalam gejala long Covid. (Foto: Freepik)

Panduan untuk pekerja medis di Britania Raya menjabarkan long Covid sebagai gejala yang terus-menerus terjadi selama lebih dari 12 minggu setelah infeksi–parah maupun ringan–yang tidak bisa dijelaskan oleh penyebab lainnya.

Menyadur BBC, menurut NHS, gejala-gejala tersebut termasuk:

  • kelelahan ekstrem
  • sesak napas, jantung berdebar-debar, nyeri atau rasa sesak pada dada
  • masalah pada ingatan atau konsentrasi (“otak berkabut”)
  • perubahan pada indera perasa dan penciuman
  • nyeri sendi

Survei telah mengindentifikasi puluhan bahkan ratusan gejala lainnya. Satu studi besar yang dilakukan oleh University College London (UCL), mengidentifikasi 200 gejala yang mempengaruhi 10 sistem organ.

Gejala tersebut termasuk halusinasi, insomnia, perubahan penglihatan dan pendengaran, hilang ingatan jangka pendek, serta permasalahan pada bicara dan bahasa. Ada juga yang melaporkan masalah gastrointestinal dan kandung kemih, perubahan siklus menstruasi dan kondisi kulit.

Namun gejala-gejala ini bisa juga memiliki penyebab lain. Riset ONS di Inggris menemukan 0,5% dari orang-orang yang dites negatif untuk virus corona setidaknya memiliki satu gejala yang bertahan selama tiga bulan, dibanding 3% yang dites positif.

Apa Penyebab Long Covid?

apa penyebab long covid
Sampai saat ini peneliti masih belum tahu pasti apa penyebab long Covid. (Foto: Freepik)

Peneliti belum tahu pasti.

Satu kemungkinan adalah infeksi membuat sistem imun beberapa orang jadi berlebihan, menyerang tidak hanya virus ini namun juga jaringan tisu mereka sendiri. Hal ini bisa terjadi pada mereka yang memiliki sistem imun sangat kuat.

Virus corona sendiri yang masuk dan merusak sel-sel kita juga bisa menjelaskan beberapa gejala seperti otak berkabut dan perubahan pada rasa dan penciuman, sambil merusak pembuluh darah yang secara khusus bisa berujung pada masalah jantung, paru-paru, dan otak.

Teori tentang long Covid lainnya adalah fragmen virus dapat tetap berada di dalam tubuh, mungkin tertidur dan kemudian diaktifkan kembali. Ini terjadi pada beberapa virus lain, seperti herpes dan virus Epstein Barr yang menyebabkan demam kelenjar.

Namun, tidak ada banyak bukti bahwa ini terjadi dengan Covid saat ini.

Kemungkinan ada beberapa hal berbeda yang terjadi pada orang yang berbeda, yang menyebabkan berbagai macam masalah.

Siapa yang Terkena Long Covid dan Seberapa Umum?

siapa yang terkena long covid dan seberapa umum
Peneliti menemukan, long Covid dua kali lebih sering terjadi pada wanita. (Foto: Freepik)

Hal ini sulit untuk ditentukan karena dokter-dokter baru saja mulai mencatat long Covid sebagai diagnosis resmi. Namun, ada badan riset yang mencukupi menyimpulkanhal ini meningkat seiring usia, dan dua kali lipat lebih umum terjadi pada wanita.

Beberapa, tapi tidak semua, gejala long Covid lebih umum diderita mereka yang sakit parah dan dirumahsakitkan akibat virus corona.

King’s College London menyimpulkan 1-2% orang di usia 20-an yang terinfeksi virus berkembang menjadi long Covid, dibanding 5% pada kelompok usia 60-an. “Namun 1-2% dari 100.000 kasus per hari adalah jumlah yang besar,” jelas Dr Claire Steves, salah satu penulis studi.

Dr David Strain dari University of Exeter Medical School, yang bekerja dengan pasien-pasien long Covid mengatakan, kebanyakan dari mereka yang dirujuk ke kliniknya berusia 20-an, 30-an, dan 40-an. Hal ini bisa jadi karena gejala-gejala ini, walaupun sedikit lebih umum pada orang yang lebih muda, memiliki dampak yang lebih besar pada mereka.

Ini juga bisa karena lansia lebih dulu divaksinasi, sehingga mereka lebih terlindungi penuh.

Penulis senior pada makalah UCL Dr Athena Akrami mengatakan: “Kami akan menangani gelombang besar infeksi yang terlihat ringat dimana mungkin satu dari tujuh akan berkembang menjadi long Covid, dan ini akan terjadi pada orang-orang muda.”

Bagaimana dengan Anak-Anak?

bagaimana dengan anak-anak
Sangat penting bahwa anak-anak yang masih mengalami sakit kepala, kelelahan dan kesulitan bernapas mendapatkan dukungan medis. (Foto: Freepik)

Anak-anak lebih kecil kemungkinannya terinfeksi Covid dibanding dengan orang dewasa sehingga lebih tidak mungkin menderita long Covid–tapi beberapa masih mengalaminya.

Namun, para ahli terkemuka mengatakan mereka diyakinkan tentang long Covid pada orang muda setelah penelitian terbesar di dunia menunjukkan gejala persisten kurang umum daripada yang ditakuti.

Beberapa perkiraan awal telah menyarankan sebanyak setengah dari semua anak yang tertular virus corona akan mengembangkan Covid yang lama.

Tetapi tim peneliti, yang dipimpin oleh Institut Kesehatan Anak Great Ormond Street, menyelidiki lebih dari 200.000 kasus positif di antara anak berusia 11 hingga 17 tahun antara September dan Maret.

Mereka berpikir bahwa antara 4.000 dan 32.000 di antaranya masih mengalami gejala 15 minggu kemudian.

Kami tidak tahu seberapa parah gejalanya, tetapi hanya ada sedikit bukti bahwa anak-anak dibiarkan terbaring di tempat tidur atau tidak dapat pergi ke sekolah.

Tetapi para peneliti menekankan bahwa risiko pada orang muda “tidak sepele”, dan mengatakan sangat penting bahwa anak-anak yang masih mengalami sakit kepala, kelelahan dan kesulitan bernapas mendapatkan dukungan medis.

Bagaimana Long Covid Didiagnosis?

bagaimana long covid didiagnosis
Saat ini long Covid didiagnosis menggunakan metode pengecualian. (Foto: Freepik)

Saat ini masih belum ada tes untuk menentukan long Covid. Metode yang digunakan saat ini merupakan “diagnosis pengecualian”, menurut Dr Strain, dengan dokter terlebih dahulu mengesampingkan kemungkinan penyebab lainnya.

Mereka menguji masalah lain seperti diabetes, fungsi tiroid dan kekurangan zat besi, sebelum memberikan diagnosis.

Tes darah untuk Covid lama bisa tersedia di masa depan. Dan dalam pengaturan penelitian, alat yang lebih canggih telah digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan organ.

Apakah Vaksin Berpengaruh?

jaga sistem imun
Pastikan imun tubuh prima sebelum lakukan vaksin. (Foto: Freepik)

Kasarnya setengah dari mereka yang terkena long Covid melaporkan kondisi yang membaik setelah disuntik–mungkin dengan mengatur ulang respons kekebalan mereka atau membantu tubuh menyerang fragmen virus yang tersisa, kata para ahli.

Vaksinasi juga dapat membantu mencegah orang tertular virus dan mengembangkan long Covid.

Cegah Long Covid dengan Program Vaksin Triasse

persiapan vaksin
Untuk cegah risiko akibat Covid-19, ada beberapa persiapan vaksin yang perlu Anda lakukan agar lebih efektif dan ringankan efek samping. (Foto: Freepik)

Terkait penyebaran Covid-19 dan long Covid di Indonesia, Triasse mencoba membantu menekan dan menurunkan jumlah orang yang terinfeksi melalui program vaksinasi. Menggunakan vaksin Sinopharm yang memiliki efikasi sampai 79 persen, perusahaan kini bisa mengikuti Program Vaksin Gotong Royong yang diadakan oleh Triasse bersama Kimia Farma.

Program vaksin khusus karyawan perusahaan ini diharapkan bisa membantu menstabilkan dan menekan jumlah pasien Covid-19 di Indonesia sambil menjaga produktivitas dan kinerja karyawan dan perusahaan.

Selain itu, ada baiknya untuk lakukan pemeriksaan kesehatan sebelumnya. Medical check-up bisa mengurangi efek samping vaksin dan juga memastikan kondisi tubuh siap untuk menerima vaksinasi yang akan diberikan. Perlu diketahui, beberapa kondisi kesehatan seperti epilepsi, darah tinggi, orang dengan HIV, dan beberapa lainnya membutuhkan perhatian khusus sebelum menerima vaksin Covid-19.

Lakukan medical check-up pra-vaksin ini sekitar 7 hari sebelum Anda berencana akan melakukan vaksinasi. Hasil bisa didapatkan tiga hari setelah pengecekan.

Untuk lebih jelasnya, cek di sini. Pastikan juga untuk selalu melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin secara berkala dua kali dalam setahun. Cek berbagai paket pemeriksaan lainnya di Triasse sesuai dengan kebutuhan.

 

Bagikan ke Teman:
Nilam Suri
Sebelum menjadi Content Manager di Triasse, Nilam bekerja di beberapa media terbesar di Indonesia dengan spesialisasi di bidang kesehatan, gaya hidup, dan hiburan. Lulus dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia jurusan Cultural Studies dan Sastra Inggris.