Risiko Kanker pada Perempuan: Serviks, Rahim, dan Ovarium

Risiko Kanker pada Perempuan: Serviks, Rahim, dan Ovarium
Kanker pada perempuan rentan menyerang area kewanitaan, seperti pada rahim, serviks, atau ovarium. Perempuan perlu beri perhatian ekstra. (Foto: Freepik)
Bagikan ke Teman:

Kanker pada perempuan tentu berbeda dengan pria. Beberapa organ yang rentan terkena kanker, selain payudara, berada pada area kewanitaan, seperti rahim, ovarium, dan serviks. Kanker serviks menurut data, adalah salah satu pembunuh tertinggi pada wanita Indonesia.

Kanker serviks adalah kanker yang menyerang mulut rahim, dan disebabkan oleh virus HPV 16 dan 18. Virus HPV atau humanpapiloma virus ditularkan melalui hubungan seksual. Kanker ini juga satu-satunya kanker yang bisa dicegah menggunakan deteksi dini atau vaksin.

Cegah Kanker Serviks Melalui Pap Smear

Salah satu metode untuk mencegah pengembangan kanker serviks adalah pap smear. Pap smear adalah pemeriksaan menggunakan sampel yang diambil dari mulut rahim dengan metode swab.

Wanita yang sudah aktif secara seksual perlu melakukan pap smear setidaknya sekali setiap tiga tahun. Pap smear meneliti apakah ada perkembangan sel yang tidak normal yang bisa menjadi sel kanker akibat virus HPV.

Untuk tahu lebih lengkap tentang pap smear, baca di sini. Dan ketahui faktor-faktor penyebab kanker serviks di artikel ini.

Tanda-Tanda Kanker Ovarium pada Perempuan

Berbeda dengan kanker payudara atau kanker kulit, kanker ovarium tidak memiliki gejala yang jelas. Namun, bukan berarti, tidak ada simtom yang muncul untuk kanker pada perempuan ini.

“Ada banyak simtom yang bisa dialami pasien, tapi mereka tidak spesifik,” ujar Shannon Westin, M.D., profesor di departemen onkologi ginekologi dan reproduksi medis di M.D. Anderson Cancer Center, mengutip Women’s Health.

Akibat gejalanya yang tidak spesifik, banyak wanita yang mengabaikannya. Hal ini membuat kanker ovarium jadi memiliki kesempatan berkembang, jadi lebih sulit ditangani ketika akhirnya terdeteksi.

Bahayanya, kanker ovarium adalah salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan–yaitu berada pada urutan kelima, menurut Komunitas Kanker Amerika.

“Wanita harus memahami apa saja simtomnya, dan perhatikan jika mereka menyadari ada yang salah,” tambah Deborah Lindner, M.D., kepala petugas medis di Bright Pink, organisasi nirlaba yang fokus pada pencegahan dan pengobatan kanker ovarium dan payudara pada wanita muda.

Simtom-simtom kanker ovarium meliputi: nyeri abdominal, mual, perut terasa lebih penuh dari biasanya, dan tidak bisa makan sebanyak biasanya, ujar Westin. Dia juga menambahkan, celana Anda bisa terasa lebih sempit dari biasanya akibat perut kembung.

Konstipasi, sering berkemih, perubahan menstruasi, rasa sakit saat berhubungan seks, dan nyeri dada (heartburn) juga bisa menjadi simtom kanker ovarium.

Memang, simtom-simtom di atas terlalu umum dan bisa jadi disebabkan oleh penyakit lain. Inilah kenapa gejala yang terus-menerus serta frekuensiny sangatlah penting, ujar M. K. Shahzad, M.D., Ph.D., spesialis ginekologi onkologi di Moffitt Cancer Center. Contohnya, jika Anda mengalami nyeri pelvis, tapi hanya sekali dan tak muncul lagi, itu bisa jadi tanda kista ovarium yang pecah. Tapi jika Anda mengalami nyeri pelvis lebih dari 12 kali sebulan, disertai simtom-simtom di atas yang muncul kurang dari satu tahun lalu, Shahzad menyarankan untuk segera menemui dokter.

Jika Anda mengalami simtom-simtom ini secara terus-menerus selama dua minggu atau lebih, Lindner juga menyarankan untuk segera menemui dokter.

Kanker ovarium lebih sering terjadi pada perempuan yang lebih tua, dan bisa saja simtom Anda tadi disebabkan oleh hal lain selain kanker. Namun tetap saja penting untuk segera mengecek penyebab gejala-gejala tadi.

“Jadwalkan kunjungan ke dokter, dan tanya pada mereka, ‘Mungkinkah ini ovarium saya?'” ujar Lindner. Hal ini bisa menyelamatkan nyawa Anda.

Wanita Karier Rentan Kanker Rahim

“Semakin miskin negaranya, semakin banyak penderita kanker serviksnya. Namun, semakin maju negaranya, semakin banyak penderita kanker rahimny,” begitu tukas dr. Quek Swee Chong, seorang dokter spesialis kandungan dan kebidanan dari Singapura, mengutip Liputan6.com.

Menurut dokter yang praktek di ASC Clinic for Women Gleneagles Hospital, Singapura ini, perbedaan gaya hidup memengaruhi jenis kanker yang diderita pada seorang perempuan.

“Di negara-negara maju, jumlah penderita kanker serviksnya sudah menurun. Di Singapura saja, kanker serviks ini sudah tidak termasuk 10 besar lagi,” lanjutnya. “Tapi, angka penderita kanker rahimnya bertambah banyak.”

Di Indonesia sendiri, jumlah penderita kanker rahim terus mengalami peningkatan. Apa sebabnya?

“Di negara maju, atau misalnya di kota-kota besar Indonesia, perempuannya banyak yang bekerja, mereka sukses, dan punya karier,” ujar dr. Chong.

Wanita bekerja cenderung menunda memiliki anak, atau malah memutuskan untuk tidak memiliki anak. Menurut dr. Chong, hal ini bisa memperbesar risiko mereka terkena kanker rahim.

Selain itu, gaya hidup wanita karier yang sibuk, jarang makan di rumah, atau sering makan sembarangan, juga memperbesar risiko mereka terkena kanker rahim.

Faktor risiko penyebab kanker rahim pada perempuan yang lain, menurut dr. Chong adalah, usia yang terus bertambah, obesitas, menstruasi yang mulai terlalu dini, menopause yang lama, serta riwayat kanker payudara atau endometrium di keluarga.

Sepanjang bulan Maret ini, merayakan Hari Perempuan Sedunia, Triasse menawarkan promo pemeriksaan pap smear. Pemeriksaan ini bisa Anda dapatkan dengan harga mulai dari Rp.108.000. Untuk artikel tentang kanker dan kesehatan lainnya, selalu cek di artikel.triasse.com.

 

Bagikan ke Teman:
Nilam Suri
Sebelum menjadi Content Manager di Triasse, Nilam bekerja di beberapa media terbesar di Indonesia dengan spesialisasi di bidang kesehatan, gaya hidup, dan hiburan. Lulus dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia jurusan Cultural Studies dan Sastra Inggris.