Nonton Star Wars Picu Epilepsi Fotosensitif? Ini Penjelasannya

epilepsi fotosensitif
Bagikan ke Teman:

Beberapa waktu lalu film Star Wars: The Rise of Skywalker terbaru rilis di bioskop, namun seiring dengan rilisnya film tersebut Disney juga memberikan sebuah peringatan bahwa film tersebut dapat menjadi pemicu kambuhnya penonton yang memiliki Epilepsi Fotosensitif.

Selain film Star Wars, ada pula beberapa film lain yang memberikan peringatan serupa seperti The Incredibles 2 dan IT 2. Lalu sebenarnya apa itu Epilepsi Fotosensitif atau Photosensitivity Epilepsy? Berikut penjelasannya:

Apa Itu Epilepsi Fotosensitif?

Epilepsi
Kejang – kejang pada umumnya disebabkan oleh aktifitas elektrik abnormal pada otak (foto: freepik)

Epilepsi adalah kelainan otak yang menyebabkan kejang berulang (lebih dari dua kali). Kejang-kejang pada umumnya disebabkan oleh aktifitas elektrik abnormal pada otak. Epilepsi dapat menjadi akibat dari:

  • Iregularitas jaringan otak
  • Ketidakseimbangan neurotransmitter
  • Kombinasi keduanya

Sementara untuk Epilepsi Fotosensitif, kejang-kejang dapat terpicu karena beberapa hal berikut:

  • Cahaya yang berkedap kedip dengan cepat
  • Pola visual dengan warna kontras (pola bergaris atau berkotak – kotak)
  • Paparan berlebih kepada video games
  • Dalam kasuw epilepsi fotosensitif, faktor genetis juga memiliki peran.

Obat anti epilepsi tersedia untuk mengurangi risiko kejang-kejang. Namun penderita Epilepsi Fotosensitif diusahakan menjauhi terpapar pemicu kejang.

Gejala Epilepsi

Penderita Epilepsi Fotosensitifitas pada umumnya mengalami gejala yang disebut “Generalized Tonic-Clonic Seizure” atau kejang tonik klonik umum. Ada juga kejang yang disebut sebagai kejang konvulsif. Kejang tonik klonik sewajarnya hanya berlangsung selama 5 menit. Gejala yang termasuk adalah:

  • Pasien kehilangan kesadaran dan jatuh
  • Otot berkontranksi dan tubuh menegang
  • Pasien menangis
  • Perubahan pada pola pernapasan
  • Pasien menggigit lidah dan pipi bagian dalam
  • Anggota tubuh menyentak saat otot melemas dan menegang
  • Kehilangan kontrol pada kandung kemih

Ketika kejang-kejang berakhir, otot melemas dan pasien berangsur-angsur sadar. Setelah kejang-kejang, umumnya pasien akan:

  • Merasa bingung
  • Lelah
  • Kehilangan memori sesaat
  • Sakit kepala
  • Merasa sakit seluruh tubuh

Masa pemulihan bervariasi, beberapa orang dapat langsung kembali beraktifitas setelah kejang namun ada juga yang butuh istirahat.

Tindakan Ketika Kejang Terjadi

Ketika kejang terjadi, tidak mungkin dapat dihentikan. Jika Anda melihat seseorang yang mengalami kejang, Anda bisa melakukan beberapa hal berikut:

  • Gulingkan tubuh pasien untuk berada dalam posisi miring untuk menghindari tersedak
  • Berikan bantalan pada bagian kepala
  • Lepaskan bagian pakaian yang melekat pada leher
  • Usahakan agar saluran pernafasan tetap terbuka. Bila perlu, tahan rahang dengan lembut dan dongakkan kepala ke atas.
  • Jauhkan pasien dari barang apapun
  • Jangan membatasi gerak pasien kecuali jika pasien dalam bahaya
  • Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut pasien termasuk obat dan cairan apapun untuk menghindari tersedak
  • Tinggal lah bersama dengan pasien hingga kejang mereda atau petugas kesehatan tiba.

Penanganan Epilepsi Fotosensitif

Penyakit Epilepsi Fotosensitifitas tidak memiliki obat untuk sembuh total. Namun, obat anti epilepsi dapat membantu mengurangi frekuensi terjadinya kejang. Pasien dengan Epilepsi Fotosensitif juga dapat mengurangi frekuensi dengan menghindari stimuli yang dapat memicu kejang. Jika Anda adalah pasien dan tidak sengaja terpapar dengan pemicu, tutup sebelah mata Anda dan palingkan kepala Anda menjauhi sumber stimuli.

Tips Hidup dengan Epilepsi Fotosensitif

Jika Anda atau orang terkasih Anda menderita Epilepsi Fotosensitif, sangatlah penting untuk melakukan apapun dalam mengurangi kemungkinan terpapar pemicu kejang. Beberapa tips berikut dapat Anda lakukan, seperti:

  • Gaya hidup sehat, seperti istirahat yang cukup, membatasi stres, menghindari alkohol berlebih, tidak bermain video games ketika Anda lelah atau dalam jangka waktu yang lama,
  • Menghindari sumber dari cahaya yang berkedap kedip dalam waktu cepat seperti klub malam, acara kembang api dan konser.
  • Jadilah seorang cermat layar, seperti halnya menonton tv dan bermain video games dalam ruangan dengan cahaya yang terang atau cukup dan jarak yang dianjurkan yakni sekitar 2,5 meter dari layar tv dan 60 cm dari layar PC. Selain itu juga Anda dapat menggunakan layar atau monitor anti kedip (LCD atau flat screen serta menggunakan remote untuk mengganti saluran TV. Mengurangi cahaya pada layar atau monitor serta mengontrol pemakaian internet untuk gambar bergerak, serta membatasi waktu Anda menonton tv dan bermain komputer juga ponsel Anda dapat membantu menghindari Epilepsi Fotosensitif
  • Lindungi mata Anda dengan menggunakan kacamata yang telah terpolarisasi ketika keluar rumah.
  • Membuat persiapan. Kenalilah pemicu Anda dan hindari sejauh mungkin. Cobalah untuk mengingat beberapa gejala yang tidak umum yang mungkin mendahului kejang seperti sakit kepala, pandangan kabur dan otot yang berkedut.

Jika Anda atau orang yang Anda kasihi mengalami kejang – kejang, segeralah periksakan kesehatan Anda pada dokter. Di Triasse.com, Anda dapat melakukan pemeriksaan EEG atau Electroencephalogram untuk mencatat dan menguji kondisi aktivitas otak Anda, serta merekam abnormalitas pada jaringan listrik otak Anda

Hidup dengan Epilepsi Fotosensitif bisa menjadi hal yang membuat frustasi. Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan mengalami kejang. Namun banyak juga penderita Epilepsi Fotosensitif yang dapat hidup secara produktif dan secara relative hidup dengan normal. Mereka mengatakan bahwa dengan berjalannya waktu, frekuensi kejang pada mereka berkurang.

Itu dia penjelasan mengenai epilepsi fotosintetif. Baca juga info sehat Triasse lainnya tentang kesehatan otak!

Bagikan ke Teman:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *