TBC: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

tbc
Bagikan ke Teman:

TBC atau Tuberkulosis merupakan penyakit paru-paru. Menurut situs resmi WHO, tuberkolosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang menyebar melalui udara ketika penderita sedang batuk, bersin, atau meludah.

Data WHO juga menyebut, setiap tahunnya, ada 10 juta orang yang jatuh sakit karena bakteri ini, meski penyakit ini bisa dicegah dan disembuhkan. Namun, WHO juga mencatat sebanyak 1,5 juta orang meninggal dunia karena TBC setiap tahunnya. Bakteri yang menyebabkan tuberkolosis ini menjadikannya pembunuh infeksius tertinggi dan paling mengerikan di dunia.

WHO juga menjelaskan, penderita tuberkolosis biasanya adalah penduduk yang penghasilannya rendah dan menengah. Sekitar setengah orang yang mengalami TBC bisa ditemukan di delapan negara, yakni Bangladesh, China, India, Nigeria, Pakistan, Filipina, Afrika Selatan, dan Indonesia.

Selanjutnya, WHO juga menyebut seperempat populasi di dunia diperkirakan terinfeksi oleh bakteri TBC. Hanya 5 hingga 15 persen dari orang-orang ini yang akan jatuh sakit dengan tuberkolosis aktif. Sisanya, penderita TBC tidak sakit dan tidak dapat menularkan penyakit. Infeksi dan penyakit tuberkolosis dapat disembuhkan dengan menggunakan antibiotik.

Berikut rangkuman Triasse tentang penyakit tuberkolosis:

Faktor Penyebab

faktor penyebab
TBC disebabkan oleh infeksi kuman dengan nama yang sama, yaitu Mycobacterium tuberculosis. (Foto: Freepik)

Disebutkan WHO, TBC disebabkan oleh infeksi kuman dengan nama yang sama, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Kuman atau bakteri ini menyebar di udara melalui percikan ludah penderita, misalnya saat berbicara, batuk, atau bersin. Meski demikian, penularannya membutuhkan kontak yang cukup dekat dan cukup lama dengan penderita, tidak semudah penyebaran flu.

Makin lama seseorang berinteraksi dengan penderita TB, semakin tinggi risiko untuk tertular. Misalnya, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita.

Pada penderita yang tidak menimbulkan gejala (TBC laten), kuman TB tetap tinggal di dalam tubuhnya. Kuman TB dapat berkembang menjadi aktif jika daya tahan tubuh orang tersebut melemah, seperti pada penderita AIDS. Namun, TBC laten ini tidak menular.

Seperti telah dikatakan sebelumnya, penularan TBC tidak semudah flu, sehingga Anda tidak akan tertular TBC jika hanya sekadar berjabat tangan dengan penderita TBC. Namun, ada beberapa kelompok orang yang lebih mudah tertular penyakit ini, yaitu:

  • Orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh.
  • Petugas medis yang sering berhubungan dengan penderita TBC.
  • Lansia dan anak-anak.
  • Orang yang kecanduan alkohol.
  • Perokok.
  • Penderita penyakit ginjal stadium lanjut.
  • Orang dengan kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita AIDS, diabetes, kanker, serta orang yang kekurangan gizi.

Gejala umum tuberkolosis meliputi batuk berkepanjangan, sakit dada, kelelahan, penurunan berat badan, demam, hingga berkeringat di malam hari. Perlu Anda ketahui, gejala-gejala seperti ini akan berlangsung selama beberapa bulan.

Karena gejala-gejalanya selama beberapa bulan, Anda akan mengira ini merupakan penyakit biasa. Namun, ketika Anda membiarkannya, bisa saja menyebarkannya ke orang lain dan Anda harus membutuhkan perawatan medis secepat mungkin.

Jika petugas medis mencurigai seseorang pasien menderita TB, mereka akan meminta sang penderita untuk menjalani rangkaian tes. WHO merekomendasikan tes diagnostik molekuler cepat sebagai tes awal untuk orang yang menunjukkan tanda dan gejala TBC. Alat diagnostik lain bisa menggunakan mikroskopis dahak dan sinar-X dada.

Dengan adanya bakteri Mycobacterium tuberculosis, seseorang menderita TBC tapi tidak aktif dalam tubuh. Namun, infeksi ini dapat berkembang menjadi penyakit TBC jika sistem kekebalannya lemah.

TBC Tulang

TBC tulang
Laporan dari WHO tahun 2007 menyatakan Indonesia memiliki sekitar 530.000 penderita TBC. (Foto: Freepik)

TBC atau tuberkulosis (TB) tulang belakang dikenal juga dengan nama penyakit Pott, yaitu tuberkulosis yang terjadi di luar paru-paru, di mana menjangkiti tulang belakang. Penyakit ini umumnya menginfeksi tulang belakang pada area toraks (dada belakang) bagian bawah dan vertebra lumbalis (pinggang belakang) atas.

Laporan dari WHO tahun 2007 menyatakan Indonesia memiliki sekitar 530.000 penderita TBC. Sekitar 106.000 (20 persen) di antaranya merupakan kasus TB di luar paru. Dan dari angka tersebut, sekitar 5.800 merupakan penderita TBC tulang belakang.

Penyebab TBC Tulang Belakang

Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri yang bernama mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar melalui percikan air liur penderita tuberkulosis yang bersin atau batuk. Makin lama atau makin sering seseorang berinteraksi dengan penderita tuberculosis, maka makin besar pula risiko tertular penyakit ini.

TBC tulang belakang terjadi akibat menyebarnya bakteri tuberkulosis dari paru-paru ke tulang belakang hingga ke keping/sendi yang ada di antara tulang belakang. Kondisi ini menyebabkan matinya jaringan sendi dan memicu kerusakan pada tulang belakang.

Seperti halnya tuberkulosis, keberadaan tuberkulosis tulang belakang sulit dideteksi. Pada umumnya, pasien mengalami nyeri punggung kronis yang tidak diketahui penyebabnya. Maka dari itu, dokter mengalami kesulitan untuk mendiagnosis. Kondisi semacam ini bisa berlangsung sekitar empat bulan.

Selain gejala umum tuberkulosis, tuberkulosis tulang belakang juga memiliki gejala-gejala tambahan yang mungkin dirasakan oleh sebagian penderita, antara lain Serangan atau gejala yang muncul sifatnya bertahap, demam, derkeringat di malam hari, kehilangan berat badan, anoreksia (gangguan makan) yang memicu penurunan berat badan, sakit punggung yang terlokalisir, misalnya sakit punggung kiri atau kanan, dan tulang belakang yang melengkung keluar menyebabkan punggung menjadi bungkuk (kifosis).

Pengobatan

pengobatan
Dalam kasus infeksi TB, pengobatan dan pencegahan dapat diberikan untuk menghentikan timbulnya penyakit. (Foto: Freepik)

Penyakit TBC, seperti yang dijelaskan WHO, dapat disembuhkan Itu diobati minimal selama enam bulan dengan empat antibiotik. Obat-obatan yang diminum seperti rifampisin dan isoniazid. Namun, dalam beberapa kasus, bakteri tuberkulosis tidak menanggapi obat standar. Jika kasus seperti muncul, penderita tuberkulosis akan resistan terhadap obat lebih lama dan lebih kompleks.

Obat TBC diberikan kepada pasien dengan informasi, pengawasan, dan dukungan oleh petugas kesehatan dan dokter berpengalaman. Tanpa dukungan seperti itu, pengobatan bakal menjadi sulit. Jika pengobatan tidak selesai dengan benar, penyakit ini menjadi kebal terhadap obat dan bisa menyebar.

Dalam kasus infeksi TB, pengobatan dan pencegahan dapat diberikan untuk menghentikan timbulnya penyakit. Perawatan ini menggunakan obat yang sama untuk waktu yang lebih singkat. Pilihan pengobatan terbaru bisa mempersingkat durasi pengobatan, menjadi satu atau tiga bulan, bila dibandingkan dengan cara lama, enam bulan.

Obat yang diminum merupakan kombinasi dari isoniazid, rifampicin, pyrazinamide dan ethambutol. Sama seperti semua obat, obat TBC juga memiliki efek samping, antara lain:

  • Warna urine menjadi kemerahan
  • Menurunnya efektivitas pil KB, KB suntik, atau susuk
  • Gangguan penglihatan
  • Gangguan saraf
  • Gangguan fungsi hati

Untuk penderita yang sudah kebal dengan kombinasi obat tersebut, akan menjalani pengobatan dengan kombinasi obat yang lebih banyak dan lebih lama. Lama pengobatan dapat mencapai 18-24 bulan. Selama pengobatan, penderita TBC harus rutin menjalani pemeriksaan dahak untuk memantau keberhasilannya. Oh ya, jangan lupa baca artikel info sehat lainnya, khususnya kesehatan tubuh, hanya di Triasse.

Bagikan ke Teman:
Alexander Sitepu
Alexander Sitepu
Extremely motivated to constantly develop my skills and grow professionally. I am confident in my ability to come up with interesting ideas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *