4 Skrining Kanker yang Wajib Anda Lakukan

skrining kanker
Bagikan ke Teman:

Banyak sekali nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan dari kanker setiap tahunnya melalui deteksi dini. Memasuki tahun baru, tidak ada waktu yang lebih baik lagi untuk menjadwalkan skrining kanker yang telah direkomendasikan oleh dokter.

Menurut ACS (American Cancer Society), sekitar 610.000 orang diperkirakan akan meninggal karena kanker pada tahun 2018. Tapi mayoritas dari jumlah tersebut dapat diselamatkan dengan adanya deteksi dini.

“Skrining kanker sangatlah kritis dikarenakan pada tahap awal kanker penyakit ini tidak memiliki tanda-tanda apapun, di saat itulah kanker masih sangat mungkin untuk disembuhkan,” menurut Dr Carmen Guerra, dewan nasional ilmiah ACS dan professor kedokteran Universitas Pennsylvania.

Guerra mendorong masyarakat untuk lebih mempelajari pedoman yang diberikan oleh ACS dan untuk memprioritaskan empat skrining kanker yang dibahas dalam info sehat perihal kesehatan tubuh berikut ini.

1. Kanker Payudara

Kanker Payudara
Wanita dalam rentang usia 40-45 tahun yang tidak memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker payudara seharusnya ditawarkan pilihan untuk memulai mammogram tahunan (foto: Freepik)

Wanita dalam rentang usia 40-45 tahun yang tidak memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker payudara seharusnya ditawarkan pilihan untuk memulai mammogram tahunan.

“Wanita dalam rentang usia 45-54 tahun seharusnya melakukan mammogram setiap tahunnya. Setelah umur 55 tahun, mereka dapat memilih untuk melakukan mammogram setiap beberapa tahun sekali atau melanjutkan jadwal tahunan,” menurut Guerra.

Meskipun tidak ada batas usia maksimal untuk melakukan mammogram namun ada baiknya para wanita mendiskusikan skrining terbaik bagi mereka setelah melalui usia 54 tahun.

Guerra juga menyampaikan meskipun di dalam keluarga tidak memiliki riwayat kanker payudara namun ada baiknya untuk tetap mengikuti pedoman dari ACS.

“Pada kenyataannya, 90 persen kasus terjadi pada pasien yang tidak memiliki riwayat kanker payudara di dalam keluarganya. Selain itu, banyak pasien yang tidak merasakan adanya benjolan pada saat pemeriksaan pribadi sehingga merasa tidak perlu melakukan skrining” ucap Guerra. “Mammogram mendeteksi tumor yang tidak terdeteksi pada pemeriksaan sendiri atau bahkan pemeriksaan klinis. Beberapa kanker payudara memiliki ukuran selembar bulu mata. Itulah yang di deteksi oleh mammografi, karena tidak bisa anda rasakan dalam pemeriksaan biasa”

Wanita yang memiliki resiko lebih tinggi karena adanya riwayat pribadi, riwayat genetik atau membawa gen mutasi, seperti BRCA1 atau BRCA2 harus membicarakan dengan dokter mengenai pilihan skrining seperti MRI scan.

2. Kanker Serviks

Kanker Serviks
Diantara usia 21 sampai 29 tahun, skrining harus dilakukan dengan Pap smear (prosedur pengambilan dan pemeriksaan sampel sel dari leher rahim) setiap 3 tahun sekali (foto: Freepik)

Semua wanita seharusnya memulai skrining kanker serviks pada usia 21 tahun. Diantara usia 21 sampai 29 tahun, skrining harus dilakukan dengan Pap smear (prosedur pengambilan dan pemeriksaan sampel sel dari leher rahim) setiap 3 tahun sekali. Sejak usia 30 tahun hingga 65 tahun, tambahan lain dari Pap smear adalah HPV test setiap 5 tahun sekali.

“Kami tahu bahwa terdapat hubungan yang kuat antara HPV dan kanker serviks” ucap Guerra. Setelah usia 65 tahun, para wanita dapat menghentikan skrining kanker serviks jika dua hasil Pap smear dalam 10 tahun terakhir dinyatakan normal.”

Bagi wanita yang telah mendapatkan vaksin HPV, ucap Guerra, ACS masih memperkirakan apakah skrining masih perlu dilakukan atau tidak.

“Saya sedang berada pada panel yang mecari jawaban pertanyaan tersebut saat ini. Kami belum tahu apakah para wanita harus melanjutkan skrining kanker serviks seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya. Pedoman baru mungkin akan muncul di tahun berikutnya dan dapat mempengaruhi rekomendasi,” ucapnya.

Guerra juga menyatakan bahwa FDA telah menyetujui vaksin HPV untuk ditawarkan kepada wanita berusia 27 hingga 45 tahun, yang merupakan pembaharuan dari sebelumnya.

“Hal ini masih baru, belum secara luas di implementasikan. Diskusikan kembali dengan dokter Anda,” ujarnya.

3. Kanker Paru-Paru

Kanker Paru Paru
Skrining untuk kanker paru – paru meliputi dosis rendah CAT scan pada bagian dada pasien yang memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita penyakit tersebut. (foto: Freepik)

Kanker paru-paru membunuh lebih banyak korban dari jumlah gabungan korban kanker kolon, payudara dan prostat. Skrining untuk kanker paru-paru meliputi dosis rendah CAT scan pada bagian dada pasien yang memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita penyakit tersebut.

Direkomendasikan bagi pasien pria maupun wanita dalam rentang usia 55 hingga 74 tahun yang merupakan perokok aktif maupun pernah merokok namun sudah berhenti dalam kurun waktu kurang lebih 15 tahun.

“Mereka harus pernah merokok sekitar 30 bungkus per tahun atau lebih. Yang dimaksud adalah 1 pak rokok sehari dikalikan 30 tahun atau ½ pak rokok sehari dikalikan 60 tahun,” terang Guerra. Tambahan dari skrining, Ia juga menyarankan konseling untuk penghentian merokok.

“Tingkat perokok telah berkurang semenjak dipublikasikan nya laporan oleh bagian bedah umum pada tahun 1964. Hal tersebut meningkatkan kesadaran akan bahaya merokok dan memicu penelitian kesehatan umum dan investasi dalam penghentian merokok,” ucap Guerra. “Kami menduga, dengan tambahan perbaikan dalam pengobatan, ada kaitannya dengan menurunnya jumlah kasus kanker paru-paru.”

4. Kanker Usus Besar

Kanker Usus Besar
Skrining kanker usus besar tidak hanya mendeteksi kanker pada tahap awal, namun dengan menghilangkan polyps yang dapat berubah menjadi kanker, skrining tersebut dapat mencegah terjadinya kanker (foto: Freepik)

Skrining kanker usus besar tidak hanya mendeteksi kanker pada tahap awal, namun dengan menghilangkan polyps yang dapat berubah menjadi kanker, skrining tersebut dapat mencegah terjadinya kanker.

“Ini adalah satu-satunya skrining yang dapat melakukannya,” ucap Guerra. Rekomendasi untuk kanker usus besar berubah pada tahun ini. Sebelumnya, ACS menyatakan bahwa siapapun yang telah berusia lebih dari 50 tahun harus sudah memulai skrining dengan kolonoskopi atau pemeriksaan lewat tinja. Pedoman yang baru menurunkannya menjadi usia 45 tahun.

“Terdapat peningkatan yang mengkhawatirkan dari jumlah kasus kanker usus besar yang kami amati pada pasien dengan usia yang lebih muda, bahkan pada millennial, dan kami tidak tahu mengapa. Untuk menangani tren baru ini dengan lebih baik, rekomendasi diturunkan dan diteruskan hingga usia 75 tahun,” jelas Guerra.

Diantara usia 75-85 tahun, anda harus mendiskusikan dengan dokter anda apakah skrining masih perlu dilakukan atau setelah usia 85 tahun skrining dihentikan.

Penyedia layanan kesehatan anda juga akan menentukan tingkat keseringan skrining anda, namun pada umumnya skrining menggunakan metode kolonoskopi hanya dilakukan setiap 10 tahun sekali. Jika tidak ada polyps yang ditemukan, maka skrining dapat dilanjutkan dengan interval setiap 3 atau 5 tahun sekali.

Bagi anda yang khawatir pemeriksaan kolonoskopi akan memalukan atau terasa sakit, Guerra menyatakan “Sesungguhnya para pasien yang melalui prosedur kolonoskopi hampir semuanya menyatakan hal terburuk terdapat pada masa preparasinya, yang dapat bervariasi, namun umumnya terdiri dari cairan yang anda terima dalam dua porsi dan diet cairan bening.”

Guerra juga menambahkan bahwa mayoritas pasien tidak mengingat prosedurnya karena mereka menerima sedatif yang membantu mereka untuk tertidur.

Sedatif tersebut juga terkadang dikombinasikan dengan obat yang membuat para pasien tidak ingat telah menjalani prosedur kolonoskopi ketika mereka bangun, namun prosedurnya sudah selesai dilakukan,” ucap Guerra.

Skrining Berlebihan?

Kekhawatiran akan melakukan skrining dan tes berlebihan sangatlah wajar, ucap Guerra. Melakukannya dapat memberikan konsekuensi yang negatif seperti biaya, waktu yang terpakai dan pada kasus terntentu menjadi masalah kesehatan akibat terpapar radiasi (dalam mammogram). Namun hal ini lah yang menjadi alasan untuk mengikuti pedoman yang telah dibuat.

“Sebagai contoh, alasan mengapa skrining kanker payudara di fokuskan pada usia 45 hingga 54 tahun adalah jika anda menggabungkan semua kasus kanker payudara yang muncul, bentuknya akan seperti lekukan lonceng yang puncaknya ada pada rentang usia tersebut dan kemudian menurun,” ucapnya. “Seiring dengan menurunnya resiko, maka tingkat keseringan skrining pun menurun atau diturunkan.”

Ia juga menambahkan bahwa butuh lebih banyak usaha agar lebih banyak dokter dan pasien yang menyadari akan hal ini.

“Pasien menginginkan perawatan yang baik, dan bagi mereka skrining tahunan adalah perawatan yang baik, namun sebenarnya kompleks,” ucap Guerra. “Perawatan yang baik dapat berarti pengurangan skrining bagi beberapa orang. Pedoman yang telah dibuat disusun dari berbagai data ilmiah.”

Untuk kesehatan yang lebih baik, lakukan medical check-up secara teratur dan berkala, setidaknya dua kali dalam satu tahun. Berbagai pemeriksaan kesehatan ini kini dapat Anda lakukan melalui Triasse.com yang menawarkan berbagai paket pemeriksaan sesuai kebutuhan.

Triasse menyediakan paket pemeriksaan khusus untuk kanker, termasuk kanker payudara dan kanker serviks. Triasse juga menyediakan skrining kanker prostat. Cek Triasse sekarang.

Bagikan ke Teman:
Nilam Suri
Nilam Suri
"Dance like no one is watching. Sing like no one is listening. Love like you've never been hurt and live like its heaven on Earth."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *