Herpes: Gejala, Penyebab, & Pengobatan Penyakit

Herpes: Gejala, Penyebab, & Pengobatan Penyakit
Herpes adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh virus dan menular, pastikan Anda tahu gejala, penyebab, dan cara pengobatannya. (Foto: Freepik)
Bagikan ke Teman:

Herpes merupakan penyakit yang muncul pada kulit dan menyebabkan lepuhan yang berwarna kemerahan dan berisi cairan. Penyakit herpes masuk dalam kategori butuh penyembuhan jangka panjang.

Lebih mengerikannya lagi, virus penyakit ini bisa bertahan di dalam tubuh seseorang seumur hidup. Triasse mengutip artikel dari Science Daily, berdasarkan penelitian dari Dr Luis M Schang, yang merupakan guru besar di Institut Baker untuk Kesehatan Hewan mengatakan, virus herpes menyebabkan luka dingin dan luka kelamin serta infeksi yang mengancam jiwa pada bayi yang baru lahir.

Virus ini sulit ditemukan, kata Dr Luis, karena bersembunyi di sel-sel saraf dan baru muncul setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian. Dr Luis juga menemukan kalau virus ini bisa beralih tahap antara tahap laten menjadi tahap litik. Artinya, virus ini berepliasi secara aktif, tergantung pada seberapa erat DNA-nya dikebas dalam bundel yang disebut kromatin.

“Setiap masalah yang disebabkan herpes karena reaktivitas dari latensi. Itulah alasan kenapa antivirus tidak dapat menyembuhkan infeksi. Latensi dan reaktivitas adalah fokus utama untuk penelitian virus herpes,” kata Dr Luis. Di bawah ini adalah info sehat lengkap mengenai kesehatan tubuh perihal penyakit herpes yang menyerang kesehatan kulit.

Penyebab

penyebab herpes
Herpes disebabkan oleh virus herpes simplex I dan II dan menular melalui kontak langsung. (Foto: Freepik)

Penyebab penyakit kulit ini adalah virus herpes simpleks tipe I dan II. Kedua virus tersebut termasuk dalam virus herpes hominis yang digolongkan ke dalam virus DNA. Penularan infeksi herpes juga bisa terjadi melalui kontak langsung, yakni kulit dengan kulit pengidap yang terinfeksi.

Diagnosis infeksi herpes dapat dilakukan dokter berdasarkan gejala dan temuan klinis yang ada. Namun, untuk beberapa kasus yang meragukan, misalnya penampakan klinis sudah tidak khas lagi, maka dapat dilakukan tes laboratorium.

Jaringan dan cairan dari vesikel kulit dapat diambil dan diamati di bawah mikroskop. Apabila pemeriksaan laboratorium gagal menemukan virus herpes, maka pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan antibodi virus herpes simpleks.

Nah, ketika virus memasuki sel, sel tersebut mencoba untuk melindungi dirinya sendiri dengan membungkus DNA virus dengan erat di sekitar protein, mirip spool yang disebut histones. Kemudian akan mengembun menjadi kromatin, yang menyebabkan virus menjadi tidak aktif.

Namun, jika sel tidak berhasil melakukan hal tersebut, kromatin hanya dibundel secara longgar, membuat DNA virus dapat diakses. Partikel-partikel virus kemudian menghidupkan gen mereka dan bereplikasi menggunakan mesin sel untuk memulai infeksi litik, yang menyebabkan penyakit.

Sesuai yang dijelaskan Dr Luis, penjelasan di atas merupakan pengetahuan baru. Para peneliti dapat mengekplorasi lebih lanjut interaksi antara virus dan sel inang yang menentukan apakah DNA virus bisa diekspresikan.

“Latensi dan regulasi gen adalah masalah besar karena kita tidak tahu banyak tentang hal tersebut. Ini seperti kotak hitam yang sangat besar dalam biologi herpes,” ujar Dr Luis.

Obat antivirus ini sudah ditemukan sejak tahun 1960-an. Namun sejauh ini, penyembuhan atau vaksin yang efektif belum bisa dijangkau para ahli.

Cacar Ular (Herpes Zoster)

cacar ular (herpes zoster)
Herpes zoster atau cacar ular adalah infeksi virus yang terjadi dengan reaktivasi virus varcella-zoster.

Salah satu penyakit yang paling sering dijumpai adalah herpes zoster, orang Indonesia mengenalnya dengan carar ular. Mengitup artikel dari Medscape, cacar ular adalah infeksi virus yang terjadi dengan reaktivasi virus varcella-zoster. Biasanya merupakan ruam dermatomal yang nyeri tetapi terbatas.

Gejala cacar ular biasanya dimulai dengan rasa sakit di sepanjang dermatom yang terkena selama dua hingga tiga hari, diikuti dengan erupsi vesikular. Temuan fisik klasik termasuk vesikel herpetiformis yang nyeri pada basis eritematosa.

Penyakit ini bisa disembuhkan dengan obat antivirus seperti asiklovir, famciclovir, dan valacyclovir yang diberikan dalam 72 jam setelah onset gejala.

Reaktivitas virus varcella-zoster yang tidak aktif di dalam ganglia akar dorsal, sering selama beberapa dekade setelah paparan awal pasein terhadal virus bisa menghasilkan cacar ular. Walaupun biasanya, ruam itu bisa sembuh sendiri, tapi disertai rasa sakit.

Kasus akut mengenai cacar air sering menyebabkan neuralgia postherpetic dan bisa menyebabkan finansial keuangan Anda semakin berkurang drastis. Sebab, pengobatan penyakit ini cukup berat, bila tidak menggunakan BPJS Kesehatan.

Gejala dan Pengobatan

gejala dan pengobatan herpes
Herpes bisa menular melalui hubungan intim dan gejala muncul dalam tempo 3-7 hari. (Foto: Freepik)

Sejak seseorang terkena virus herpes, misalnya akibat hubungan intim yang kurang aman, hingga muncul gejala (masa inkubasi) memakan waktu 3-7 hari. Gejala dan perjalanan penyakit dapat dibagi ke dalam beberapa stadium, yakni:

-Infeksi Primer
Gejala awal yang dijumpai berupa bintil berwarna putih tampak berisi air atau disebut sebagai vesikel. Bintik ini berkelompok di atas kulit yang sembab dan kemerahan (eritematosa). Awalnya vesikel tersebut tampak putih, tetapi lama-kelamaan berisi nanah berwarna hijau. Kadang-kadang dapat ditemukan juga bintil yang telah pecah, sehingga penampakan, seperti sariawan pada kulit.

– Fase Laten
Saat gejala membaik, ini bukan berarti virus telah mati. Virus tersebut “beristirahat” di dalam sel saraf ganglion dorsalis (saraf tulang belakang) manusia. Penularan penyakit herpes pada pengidap yang berada pada fase ini pun nyatanya masih dapat terjadi akibat pelepasan virus terus berlangsung, meskipun dalam jumlah sedikit. Dengan demikian, bisa saja seseorang terkena infeksi herpes dari pasangannya yang dari penampilan fisik tampak sehat-sehat saja.

– Infeksi Rekuren
Virus yang beristirahat pada fase laten suatu saat dapat aktif kembali. Faktor-faktor atau kondisi-kondisi yang dapat mengaktifkan infeksi tersebut, antara lain trauma fisik, seperti demam, infeksi oleh penyakit lain, penyakit HIV/AIDS, hubungan intim, kurang istirahat, menstruasi, dan sebagainya.

Sekarang, Triasse mengajak Anda fokus pengobatan herpes adalah untuk menghilangkan blister, serta untuk mencegah penyebaran herpes, meskipun koreng dan lepuhan akibat herpes dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Selain itu, pemberian obat-obatan antivirus juga bisa mengurangi komplikasi akibat penyakit ini.

Sementara itu, untuk mengurangi nyeri yang ditimbulkan oleh herpes, tips-tips berikut ini dapat dilakukan selama masa penyembuhan herpes, antara lain:

– Mengonsumsi obat pereda nyeri.
– Mandi dengan menggunakan air suam.
– Kompres dengan air hangat atau atau air dingin pada kulit yang terkena.
– Menggunakan pakaian dalam berbahan katun.
– Menggunakan pakaian longgar.
– Menjaga area koreng tetap kering dan bersih.

Pencegahan Herpes Zoster

pencegahan HSV ZOSTER
Walau tidak dapat mencegah herpes zoster sepenuhnya, vaksinasi setidaknya bisa mengurangi keparahan gejala penyakit ini dan mempercepat waktu penyembuhan. (Foto: Freepik)

Cara untuk mengurangi risiko timbulnya atau pencegahan HSV zoster adalah pemberian vaksinasi. Vaksinasi disarankan bagi orang yang berusia di atas 50 tahun. Vaksin juga dapat diberikan pada orang yang pernah menderita herpes zoster, untuk mencegah kekambuhan. Walau tidak dapat mencegah herpes zoster sepenuhnya, vaksinasi setidaknya bisa mengurangi keparahan gejala penyakit ini dan mempercepat waktu penyembuhan.

Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, hsv zoster merupakan kelanjutan dari penyakit cacar air, sehingga penyakit herpes zoster tidak dapat ditularkan. Namun, penderita dapat menjadi sumber penyebaran virus Varicella Zoster yang dapat mengakibatkan orang lain terkena cacar air. Berikut ini adalah hal-hal yang dapat dilakukan agar Anda tidak menularkan virus ini kepada orang lain:

– Menutup luka lepuh agar cairan pada lepuh tidak mengontaminasi benda-benda yang dapat menjadi perantara penularan.
– Tidak menggaruk luka lepuh.
– Menghindari kontak langsung dengan wanita hamil yang belum pernah mengalami cacar air, bayi dengan berat badan lahir rendah atau bayi prematur, serta orang dengan kekebalan tubuh yang lemah.
– Sering mencuci tangan.

Bagikan ke Teman:
Alexander Sitepu
Extremely motivated to constantly develop my skills and grow professionally. I am confident in my ability to come up with interesting ideas.