Saatnya Rangkul Korban Pelecehan Seksual, Gimana Caranya?
Reynhard Sinaga adalah salah satu dari sekian banyak predator. Saatnya kita peduli dan merangkul korban pemerkosaan dan pelecehan seksual, berikut caranya. Foto: Freepik

Saatnya Rangkul Korban Pelecehan Seksual, Gimana Caranya?

Bagikan ke Teman:

Reynhard Sinaga adalah salah satu dari sekian banyak pelaku pemerkosaan/pelecehan seksual yang berkeliaran mencari mangsa. Reynhard telah memperkosa ratusan orang di Inggris sampai akhirnya tertangkap polisi karena salah satu korbannya berani melapor.

“Berani” adalah kata yang penting disini karena korban pemerkosaan dan pelecehan seksual memiliki kecenderungan merahasiakan kejadian kejahatan yang dialaminya dan menyalahkan dirinya sendiri. Ini hanya salah satu dari sekian hal yang perlu Anda ketahui mengenai korban kejahatan seksual.

Jika kerabat dan teman terdekat Anda adalah korban, Anda perlu membaca artikel info sehat ini untuk mengetahui cara membantu menyintas trauma yang mereka hadapi untuk membantu menjaga kesehatan mental mereka.

Apa Itu Pelecehan Seksual?

Korban pelecehan seksual
Pelecehan seksual adalah tindakan kriminal yang meninggalkan luka jangka panjang pada korban. (foto: Freepik)

Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi di manapun baik itu di ruang publik maupun di rumah sendiri.

Walaupun secara umum wanita sering mendapat sorotan sebagai korban pelecehan seksual, namun pelecehan seksual dapat menimpa siapa saja. Korban pelecehan seksual bisa jadi adalah laki-laki ataupun perempuan. Korban bisa jadi adalah lawan jenis dari pelaku pelecehan ataupun berjenis kelamin yang sama. Dalam kasus Reynhard Sinaga, semua korbannya adalah laki-laki heteroseksual yang diperkosa di bawah pengaruh obat/tidak sadar.

Gejala yang Dialami Korban Pelecehan Seksual

pelecehan seksual bersifat traumatis untuk korban
94% wanita yang diperkosa mengalami gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dalam dua minggu setelah serangan itu. (foto: Freepik)

Kekerasan seksual bersifat traumatis. Mirip dengan pengalaman traumatis lainnya, normal bagi korban pelecehan seksual untuk mengalami gejala seperti trauma dalam beberapa minggu setelah kejadian. Faktanya, 94 persen wanita yang diperkosa mengalami gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dalam dua minggu setelah serangan itu. Ini wajar. Ini adalah reaksi terhadap rasa takut, perasaan kehilangan kendali, dan kerentanan yang dialami seseorang setelah peristiwa yang tidak terduga dan mengejutkan.

Gejala-gejala ini umumnya meliputi:

  • Pengalaman kembali secara intrusif (melalui ingatan atau hal tertentu yang memicu ingatan) tentang kejadian
  • Menghindari pemicu atau pengingat terkait trauma
  • Perubahan dalam mood/suasana hati (berpikir negatif dan perasaan depresi, cemas, atau marah)
  • Peningkatan gairah dan reaktivitas (kegelisahan, kewaspadaan tinggi, mudah marah, mudah kaget)

Pengobatan untuk Korban

Pengobatan untuk korban pelecehan seksual
Sangat disarankan agar korban mencari pengobatan secepatnya. Dengan melakukan ini, korban dapat mempersingkat waktu perawatan dan pemulihan lebih cepat sehingga korban tidak melewatkan masa hidupnya dengan sia-sia. (foto: Freepik)

Korban pelecehan seksual cenderung memutuskan untuk tidak melaporkan kejahatan yang terjadi dan tidak mencari pertolongan medis profesional untuk merasa “baik-baik saja.” Tindakan ini mungkin terlihat seperti jalan pintas dan korban akan merasa mempunyai kendali akan dirinya sendiri, tetapi sayangnya tindakan ini tidak akan benar-benar menyembuhkan korban dan malah akan membuat korban menjadi rentan kepada masalah tekanan psikologis yang akan datang.

Nyatanya urusan psikologis yang belum tuntas dapat mendatangkan tekanan yang signifikan untuk bertahun-tahun ke depan. Mencari bantuan profesional adalah hal penting yang tidak boleh diabaikan.

Sangat disarankan agar korban pelecehan seksual mencari pengobatan secepatnya. Dengan melakukan ini, korban dapat mempersingkat waktu perawatan dan pemulihan lebih cepat sehingga korban tidak melewatkan masa hidupnya dengan sia-sia. Dari perspektif klinis, jumlah penderitaan dan kesusahan berkurang secara substansial ketika seseorang mencari pengobatan lebih awal.

Reaksi maladaptif umum lainnya yang lebih mungkin dicegah dengan pengobatan dini termasuk peningkatan penggunaan zat terlarang, niat bunuh diri, dan kesulitan berfungsi di tempat kerja, sekolah dan di rumah.

Yang tidak kalah penting bagi korban adalah kepedulian dari orang-orang terdekatnya. Jika orang terdekat Anda adalah korban, langkah yang tepat adalah melaporkannya langsung ke polisi agar tidak ada lagi korban berikutnya. Bujuk korban untuk segera mencari pertolongan medis profesional agar meminimalisir efek trauma jangka panjang.

Jangan lupa juga untuk segera periksakan penyakit menular seksual yang kemungkinan ditularkan oleh pelaku kepada korban. Anda dan orang-orang terdekat Anda dapat mencegah dan menangani STD (Sexual Transmitted Disease) dengan segera melakukan cek penyakit menular seksual di Triasse.

Bagikan ke Teman:
Rachmat Abbid
A young writer who eager to do something different.