10 Masalah Kesehatan yang Ganggu Generasi Milenial

10 Masalah Kesehatan yang Ganggu Generasi Milenial
Kesehatan milenial lebih dipengaruhi oleh kondisi psikologis atau mental dibanding fisik. Foto: Freepik
Bagikan ke Teman:

Walaupun generasi milenial tampaknya mengeluarkan investasi yang lebih besar untuk kesehatan dibanding generasi sebelumnya, temuan dari Blue Cross Blue Shield Association (BSBSA) menyimpulkan, seiring pertambahan usia milenial lebih tidak sehat dibanding para orangtua mereka.

Menurut laporan BSBSA, ada 10 kondisi utama yang mempengaruhi kesehatan milenial, diurutkan berdasarkan dampaknya di bawah ini:

  1. Depresi mayor
  2. Penyalahgunaan obat-obatan
  3. Penyalahgunaan alkohol
  4. Hipertensi
  5. Hiperaktif
  6. Kondisi psikosis
  7. Penyakit Crohn dan radang usus besar
  8. Kolesterol tinggi
  9. Ketergantungan tembakau
  10. Diabetes tipe 2 (Diabetes mellitus)

“Walaupun 10 kondisi kesehatan yang mempengaruhi milenial tidaklah mengejutkan, apa yang mengagetkan adalah tingkat prevelansi masing-masing kondisi ini pada kesehatan  milenial jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya,” jelas Dr. Vincent Nelson, wakil presiden urusan medis untuk BSBSA, dilansir Healthline.

Milenial yang berusia 34 sampai 36 tahun pada tahun 2017 11 persen lebih tidak sehat dibanding Gen X yang berusia 34 sampai 36 di tahun 2014. Selain itu ada peningkatkan sampai puluhan persen terhadap diagnosis untuk delapan dari 10 kondisi kesehatan di atas.

Namun 83 persen dari 55 juta milenial yang disurvei pada tahun 2017 menganggap diri mereka berada dalam kondisi kesehatan yang baik atau sangat baik, walaupun analisis BCBSA mengungkapkan hal yang berlawanan.

“Karena ada peningkatan tantangan kesehatan yang signifikan bagi generasi milenial di usia yang lebih awal dibanding generasi sebelumnya, kita harus mengatasi permasalahan ini sekarang,” ujar Nelson.

Kondisi Kesehatan Mental yang Paling Pengaruhi Milenial

Ketika dibandingkan dengan populasi secara keseluruhan, generasi milenial lebih dipengaruhi oleh kondisi kesehatan mental dibanding fisik. Risiko yang paling tinggi adalah gangguan depresi mayor dan hiperaktif.

“Sementara kita mungkin melihat diagnosis yang moderat mempengaruhi seluruh generasi untuk kondisi kesehatan mental yang sebelumnya terstigmatisasi, milenial mengalami prevalansi yang semakin besar dibanding Gen X maupun baby boomers,” ujar Nelson.

Depresi mayor, penyalahgunaan obat, dan penyalahgunaan alkohol adalah tiga kondisi paling besar yang mempengaruhi milenial.

Deborah Serani, PsyD, profesor di Adelphi University dan penulis pemenang penghargaan untuk “Living with Depression,” mengatakan prevelansi kondisi-kondisi ini di kalangan milenial tidaklah mengejutkan.

Ia meyakini, situasi di bawah inilah yang mempengaruhi kondisi kesehatan mental milenial:

1. Kemajuan Teknologi

Karena teknologi, milenial adalah generasi pertama yang tumbuh tanpa belajar bagaimana cara mempertahankan kontak mata, bagaimana cara membaca mimik wajah, atau memperdalam pemahaman tentang tekstur emosi baik emosi diri sendiri maupun orang lain.

“Kurangnya pemahaman emosional, yang secara klinis disebut alexithymia, membuat milenial kesulitan untuk memahami pikiran dan perasaan mereka sendiri,” ujar Serani kepada Healthline.

2. Media yang terlalu banyak

Serani mengatakan membludaknya media di internet menciptakan siklus berita 24-jam. Hal ini memungkinkan anak-anak milenial mengakses berita-berita yang menakutkan.

“Berita-berita tentang terorisme, bencana alam, dan kehancuran tidaklah menjamur pada generasi sebelumnya, tapi kini selalu tersedia sepanjang waktu,” ujar Serani. “Perasaan putus asa, tak berdaya, dan rasa takut ini tertanam di dunia milenial, baik dari melihat berita ini sendiri, atau melalui reaksi menular dari orang dewasa di keluarga mereka.”

3. Mentalitas semua menang

Serani mengatakan belajar tentang menang atau kalah telah dikalahkan oleh zona aman yang dimunculkan oleh tombol reset dan pause.

“‘Semua orang dapat piala’ atau ‘tidak ada yang kalah’ menghilangkan kesempatan untuk secara alami belajar menerima kekalahan dan membangun daya tahan. Sebagai hasilnya, banyak milenial mengalami kesulitan menoleransi masa-masa sulit, mudah frustrasi, dan memilih untuk menghindari tuntutan demi tidak merasa kewalahan,” lanjut Serani.

4. Rumah tangga dengan dua sumber penghasilan

Seiring semakin banyak orangtua bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, Serani mengatakan generasi milenial mengalami perubahan yang tidak dialami generasi sebelumnya.

“Generasi milenial tidak memiliki kemewahan yang ada pada generasi sebelumnya, seperti makam malam keluarga dan jam kerja atau waktu akhir pekan yang sudah diprediksi sebelumnya. Hal ini menciptakan dunia yang lebih soliter bagi banyak generasi milenial, menyelubungi mereka dengan kebiasaan menghindar dan mengisolasi diri,” tambahnya.

5. Jam kerja yang tidak tetap

Generasi milenial yang lebih tua mungkin memiliki kesempatan untuk bekerja di pekerjaan dengan jam kerja yang mereka tentukan sendiri atau bisa bekerja dari luar kantor. Namun, hal ini memiliki kekurangan karena mereka kadang harus bekerja saat akhir pekan atau saat liburan.

“Karenanya, mereka tidak benar-benar memiliki waktu untuk beristirahat atau memulihkan diri. Semua ini meningkatkan faktor risiko gangguan fisik dan mental,” jelas Serani.

Dr. Jonathan Avery, direktur psikiatri adiksi di New York-Presbyterian and Weill Cornell Medicine, menambahkan bahwa penyakit mental dan penyalahgunaan obat dimulai saat masa anak-anak dan lebih mempengaruhi generasi muda.

“Dan milenial saat ini memiliki lebih banyak pemicu stres, bisa lebih terisolasi, dan lebih mudah terpapar perangkat baru yang mengadiksi,” ujarnya.

Bagaimana Milenial Bisa Melindungi Diri Sendiri

Nelson mengatakan, hal terbaik yang bisa dilakukan milenial untuk kesehatan mereka adalah untuk mencari tindak pencegahan sehingga mereka bisa mendapatkan diagnosis dan perawatan yang benar sebelum kondisi mereka jadi tidak terkontrol dan mengancam jiwa.

Namun, survei BCBSA menemukan sepertiga milenial tidak memiliki tunjangan kesehatan primer, dan tidak mendapatkan tindak pencegahan yang layak. Terlebih lagi, kebanyakan milenial hanya mengunjungi dokter saat sakit atau ada yang patah.

“Hal ini tidak hanya mempengaruhi kesehatan jangka pendek generasi milenial, tapi juga kesehatan jangka panjang karena tidak mengambil tindak pencegahan,” ujar Nelson. “Saya mendorong milenial untuk mencari dan secara teratur berkonsultasi dengan tenaga kesehatan primer jika belum melakukan hal ini sebelumnya. Anda tidak pernah tahu kapan Anda membutuhkan perawatan, dan banyak kondisi bisa ditangani dengan lebih efisien, dan dengan harga yang lebih terjangkau, jika diketahui lebih awal.”

Serani mendukung pernyataan di atas, mengatakan bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi ketika berurusan dengan generasi milenial adalah karena mereka tidak sanggup membayar psikoterapi.

“Biaya hidup saat ini lebih besar dibanding generasi sebelumnya,” ujarnya. “Riset juga menemukan bahwa ‘gagasan’ lebih memotivasi milenial dibandingkan ‘loyalitas.’ Seringnya, milenial tidak menjalin hubungan dengan profesional medis, yang seharusnya bisa mendorong mereka memiliki perawatan yang lebih tertata dan kesehatan yang lebih baik.”

Dia juga mendorong milenial untuk mempraktikkan perawatan diri.

“Perawatan diri adalah perilaku yang dipelajari. Hal ini bukan sesuatu yang begitu saja terjadi. [Milenial sebaiknya] fokus pada perawatan diri seperti pola makan sehat, tidur cukup, olahraga teratur dan memasukkannya ke dalam gaya hidup harian, bukan untuk jangka pendek saja tapi sebagai komitmen jangka panjang,” ujarnya.

Rehat dari teknologi, pekerjaan, dan media, dan menukarnya dengan waktu tatap muka berkualitas dengan orang terdekat adalah bentuk perawatan diri, saran Serani.

Avery menambahkan bahwa milenial bisa membantu mengurangi stigma yang menyelubungi gangguan mental dengan memprioritaskan kesehatan mental mereka, berlaku terus terang tentang kesulitan mereka, dan mencari bantuan ketika merasa tidak baik atau stres.

“Tidak ada seorang pun yang kebal dari gangguan mental atau penyalahgunaan obat. Milenial harus memahami gejala dan simtom dari kondisi ini, baik bagi diri sendiri maupun orang terdekat,” ujarnya.

Bagaimana Perawatan Kesehatan Bisa Membantu Milenial

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang penurunan kualitas kesehatan di kalangan milenial, Nelson mengatakan BCBSA mengadakan sesi dengan beberapa perusahaan di Amerika Serikat. Hasil sesi tersebut menyimpulkan bagaimana cara milenial bisa mendapatkan perawatan kesehatan yang lebih baik dengan mengakali gaya hidup mereka. Berikut cara-caranya:

  • Karena milenial lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi kesehatan perilaku, mereka lebih memilih pendekatan holistik bagi kesehatan mereka yan mengintegrasikan tubuh dan pikiran.
  • Milenial merasa jauh lebih nyaman di situasi yang santai dan akrab, yang bisa membuat mereka mempercayai dokter untuk memahami gaya hidup, budaya, rasa, status sosialekonomi, serta identitas seks dan gender.
  • Milenial lebih memilih bekerja di tempat yang tidak memiliki stigma terhadap gangguan kesehatan mental.

Untuk memastikan Anda tidak mengalami 10 gangguan kesehatan milenial di atas, pastikan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. PesanLab.com menyediakan Paket Medical Check-up yang lengkap dan terjangkau dan bisa Anda lakukan untuk memastikan kesehatan secara keseluruhan.

Bagikan ke Teman:
Nilam Suri
"Dance like no one is watching. Sing like no one is listening. Love like you've never been hurt and live like its heaven on Earth."